my litle

my litle
Cibibibi cayang mama

Sabtu, 11 Juni 2011

EVAPORASI dan RADIASI


MAKALAH FISIKA KESEHATAN
EVAPORASI DAN RADIASI

LOGO AKBID


DISUSUN OLEH :

Ø  TRI WAHYU ACEH WULANDARI
Ø  SITI MUSLIHA
Ø  DINA YUHANA
Ø  IDA YAN TI

DOSEN PEMBIMBING : APIT FATHUROHMAN, S.pd, M.SI

AKADEMI KEBIDANAN PONDOK PESANTREN
ASSANADIYAH PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2010-2011




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat dan hidayah-Nya kami bias menyelesaikan makalah ini. Makalah ini kami buat guna memenuhi tugas dari dosen.
Makalah ini membahas tentang “FISIKA KESEHATAN EVAPORASI DAN RADIASI”, semoga dengan makalah yang kami susun ini kita sebagai mahasiswa kebidanan dapat menambah dan memperluas pengetahuan kita.
Kami mengetahui makalah yang kami susun ini masih sangat jauh dari sempurna, maka dari itu kami masih mengharapkan kritik dan saran dari bapak/ibu selaku dosen-dosen pembimbing kami serta temen-temen sekalian, karena kritik dan saran itu dapat membangun kami dari yang salah menjadi benar.
Semoga makalah yang kami susun ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita, akhir kata kami mengucapkan terima kasih.


Palembang, April 2011

                                                                                                   Penyusun












DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ………………………………………………………    i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………..    ii
BAB I PENDAHULUAN
            1.1  Latar Belakang ……………………………………….. ………..    1
            1.2 Tujuan Pembahasan ……………………………………………...    1
BAB II TINJAUAN TEORI
            2.1 Pengertian Evaporasi……..……………………………………...    2
                        2.1.2 Proses-proses evaporasi…………………………………  4
                        2.1.3  Faktor yang mempengaruhiterjadinya evaporasi………   4
3.1 Pengertian Radiasi ……………………………………………….   5
3.1.2 Macam-macam jenis radiasi…………………………….  5
BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan ………………………………………………………..  10
DAFTAR PUSTAKA














BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang, dalam bentuk panas, partikel dan gelombang elektromagnetik.
Contoh: radiasi sinar mata hari ke angkasa (pancaran berupa energi/foton)
radiasi sinar radioaktif, radiasi alfa, beta, gama (pancaran berupa partikel)
Radiasi kadangkala juga digunakan, tidak tepat, untuk menunjuk ke kontaminasi radioaktif, pembebasan isotop radioaktif ke lingkungan. Isotop tersebut kemudian melepaskan radiasi terionisasi, yang dapat membuat parah apabila isotop tersebut diserap oleh tumbuhan, hewan atau manusia, karena isotop kemudian melepas radiasi terionisasi dari dalam organisme.
Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu:
(1) evaporasi yang berarti proses penguapan yang terjadi secara alami.
(2) evaporasi yang dimaknai dengan proses penguapan yang timbul akibat diberikan
      uap panas (steam) dalam suatu peralatan.











BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1  Pengertian Evaporasi
Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu: (1) evaporasi yang berarti proses penguapan yang terjadi secara alami, dan (2) evaporasi yang dimaknai dengan proses penguapan yang timbul akibat diberikan uap panas (steam) dalam suatu peralatan.
Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid (cairan) dengan penambahan panas (Robert B. Long, 1995). Panas dapat disuplai dengan berbagai cara, diantaranya secara alami dan penambahan steam. Evaporasi diadasarkan pada proses pendidihan secara intensif yaitu (1) pemberian panas ke dalam cairan, (2) pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap, (3) pemisahan uap dari cairan, dan (4) mengkondensasikan uapnya.
Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam zat cair mendidih (Warren L. Mc Cabe, 1999). Evaporasi vs pengeringan. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat cair – kadang-kadang zat cair yang sangat vuskos – dan bukan  padat. Perbedaan lainnya adalah, pada evaporasi cairan yang diuapkan dalam kuantitas relatif banyak, sedangkan pada pengeringan sedikit.
Ø   Evaporasi vs pengeringan
Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat cair – kadang-kadang zat cair yang sangat vuskos – dan bukan zat padat. Perbedaan lainnya adalah, pada evaporasi cairan yang diuapkan dalam kuantitas relatif banyak, sedangkan pada pengeringan sedikit.
Ø   Evaporasi vs distilasi
            Evaporasi berbeda pula dari distilasi, karena uapnya biasa dalam komponen tunggal, dan walaupun uap itu dalam bentuk campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha unutk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Selain itu, evaporasi biasanya digunakan untuk menghilangkan pelarut-pelarut volatil, seperti air, dari pengotor nonvolatil. Contoh pengotor nonvolatil seperti lumpur dan limbah radioaktif. Sedangkan distilasi digunakan untuk pemisahan bahan-bahan nonvolatil.
Ø   Evaporasi vs Sterilisasi
            Evaporasi lain dari kristalisasi dalam hal pemekatan larutan dan bukan pembuatan zat padat atau kristal. Evaporasi hanya menghasilkan lumpur kristal dalam larutan induk (mother liquor). Evaporasi secara luas biasanya digunakan untuk mengurangi volume cairan atau slurry atau untuk mendapatkan kembali pelarut pada recycle. Cara ini biasanya menjadikan konsentrasi padatan dalam liquid semakin besar sehingga terbentuk kristal.
Titik didih cairan yang diuapkan pada evaporasi dapat dikontrol dengan mengatur tekanan pada permukaan uap-cair. Artinya, jika penguapan terjadi pada temperatur tinggi, maka evaporator dioperasikan pada tekanan tinggi pula. Beberapa evaporasi dalam industri secara normal bekerja pada tekanan vacum untuk meminimalkan kebutuhan panas. 
Pada proses pendidihan secara alami, perubahan titik didih sebagai perubahan temperatur dapat ditingkatkan. Beberapa tipe pendidihan yang berbeda mempunyai koefisien perpindahan panas yang berbeda pula. Tipe-tipe tersebut adalah (Bell, 1984) :
-         pendidihan secara konveksi alami
-          pendidihan nukleat
-          pendidihan film Pendidihan konveksi alami terjadi ketika cairan dipanaskan pada permukaannya. Pada tipe ini, koefisien perpindahan panas meningkat dengan perubahan temperatur, tetapi relatif lambat.  Pada pendidihan nukleat terbentuk gelembung-gelembung uap pada interface cairan dan padatan dari permukaan perpindahan panas. Pendidihan pada tipe ini terjadi dalam sebuah ketel atau reboiler thermosifon yang digunakan pada proses industri. Koefisien perpindahan panas pada tipe ini lebih besar. Pendidhan film terjadi ketika perubahan temperature sangat tinggi dan penguapan terjadi secara berkesinambungan pada permukaan perpindahan panas. Koefisien perpindahan panas meningkat seiring dengan meningkatnya perubahan temperatur. Namun, nilai koefisien perpindahan panasnya lebih rendah jika dibandingkan pendidihan nukleat.

2.1.2   Proses-proses evaporasi
          Proses evaporasi terdiri dari dua peristiwa yang berlangsung : 
1. Interface evaporation, yaitu transformasi air menjadi uap air di  
    permukaan tanah. Nilai ini tergantung dari tenaga yang   
    tersimpan. 
2. Vertikal vapour transfers, yaitu perpindahan lapisan yang kenyang      
    dengan uap air dari interface ke uap (atmosfer bebas).

2.1.3   Faktor yang mempengaruhi terjadinya evaporasi
1.    Kelembaban udara (semakin lembab semakin kecil
                   penguapannya)
2.    Tekanan udara 
3.    Kedalaman dan luas permukaan, semakin luas semakin besar penguapannya 
4.    Kualitas air, semakin banyak unsur kimia, biologi dan fisika, penguapan semakin kecil.
5.    kecepatan angin
6.    Topografi, semakin tinggi daerah semakin dingin dan penguapan semakin kecil
7.    Sinar matahari
8.    Temparatur





Ada beberapa konsep penting evaporasi, yaitu :
1.      Transpirasi, yaitu proses hilangnya air dalam tumbuhan akibat penguapan melalui stomata daun.
2.      Evapotranspirasi, yaitu penguapan yang terajdi pad permukaan air, tanah, maupun tumbuhan air pada suatu DAS.
3.       Potential evaporation, yaitu jumlah penguapan persatu-satuan luas dan waktu yang terjadi pada keadaan atmosfer saat itu, apa bila tersedia cukup air.
4.      Actual evaporation, yaitu jumlah penguapan persatu-satuan luas dan waktu yang benar-benar terjadi pada saat itu. 
5.      Potential evapotranspiration, yaitu jumlah penguapan yang berasal dari tumbuhan, tubuh air, permukaan tanah dalam keadaan jenuh pada kondisi iklim saat itu (syarat air yang tersedia berlebihan).
6.      Actual evapotranspiration, yaitu jumlah penguapan yang berasal dari tumbuhan,tubuh air, permukaan tanah dalam keada


3.1   Pengertian Radiasi
   Radiasi adalah pancaran energy melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik atau cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal disekitar kehidupan kita, contohnya adalah televise, lampu penerang, alat pemanas makanan, computer dan lain-lain.
     
      3.1.2   Macam-macam jenis radiasi
 BERDASARKAN SUMBERNYA DIKENAL DUA MACAM RADIASI, yaitu:
 a. Radiasi Alam
               b. Radiasi Buatran.

Radiasi alam terbagi menjadi dua kelompok
a.           Radiasi Kosmogenis;
b.          Radiasi Primordial (Teresterial)  



Ø  Macam-macam jenis radiasi
Ø  Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di matahari. Energi radiasi matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Spektrum radiasi matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah. Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor. 1.Jarak matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan energi matahari 2.Intensitas radiasi matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus. 3. Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara matahari terbit dan matahari terbenam. 4. Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi.
Ø   Radiasi zat radio aktif adalah zat yang mengandung inti tidak stabil. Radioaktif berasal dari kata RADIO dan RADIARE yaitu memancar, bersinar dan aktif. Aktif sendiri adalah spontan dan dengan sendirinya. Zat radioaktif dapat diartikan sebagai alat yang mempunyai kemampuan untuk memancar dengan spontan.
Ø   Radiasi sinar alfa mempunyai ukuran (volume) dan  muatan listrik positif yang besar yang tersusun atas dua proton dan dua neutron, sehingga identik dengan inti atom Hellium. Daya ionisasi partikel alpha sangat besar, kurang lebih 1oo kali dari ionisasi partikel beta dan 10.000 kali daya ionisasi sinar-Gamma. Karena mempunyai muatan listrik yng besar maka partikel alpha mudah di pengaruhi oleh medan listrik yang ada disekitarnya. Partikel alpha tidak mampu menembus pori-pori kulit kita pada lapisan yang paling luar sekalipun karena mempunyai ukuran yang besar.
Ø   Radiasi sinar gamma tidak mempunyai besaran volume dan muatan listrik sehingga dikelompokkan kedalam gelombang elektromagnetik. Daya ionisasinya didalam medium sangat kecil. Tidak terbelokkan oleh medan listrik yang ada disekitarnya, sehingga daya tembusnya sangat besar dibandingkan dengan daya tembus partikel alpha atau beta.
Ø   Radiasi sinar neutron Termasuk jenis radiasi dengan daya tembus  besar. Dapat dideteksi di tempat ketinggian. Radiasi neutron terjadi dalam reaktor nuklir, tapi dapat dibuat pelindung terhadapnya misalnya dengan menggunakan air
















BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
      Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu: (1) evaporasi yang berarti proses penguapan yang terjadi secara alami, dan (2) evaporasi yang dimaknai dengan proses penguapan yang timbul akibat diberikan uap panas (steam) dalam suatu peralatan.
               Radiasi adalah pancaran energy melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik atau cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal disekitar kehidupan kita, contohnya adalah televise, lampu penerang, alat pemanas makanan, computer dan lain-lain.

3.2  Saran
      Agar mahasiswa dapat mengetahui dan mempraktekkan persalinan normal secara baik dan benar sesuai prosedur











DAFTAR PUSTAKA

sumber : http://cafe-radiologi.blogspot.com/2010/09/mengenal-radiasi.html
Hoesin, Haslizen (1978), “Penelitian & Studi Energi Radiasi Matahari Yang Menimpa Bangunan Dan Pengaruhnya Terhadap Pemakaian Energi Untuk Penerangan Di Siang Hari Dalam Bangunan”. (Tugas Akhir). Departemen Fisika Teknik. Istitut Teknologi Bandung.

Kamis, 09 Juni 2011

FISIOLOGI LAKTASI


BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses mengisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari diklus reproduksi mamalia termasuk manusia.
Laktasi bukan merupakan metode kontrasepsi yang dapat diandalkan. Ironinya, banyak wanita yang tidak menyadari hal ini, dan masih banyak ibu-ibu yang baru melahirkan yang tidak mendapat informasi maupun konseling mengenai keluarga berencana.

I.2 Tujuan
1.2.1    Tujuan   Umum
Membantu ibu dalam pemberian ASI kepada anak selama anak masih     menyusui.
1.2.2   Tujuan Khusus
Membantu ibu untuk mengetahui cara memproduksi ASI yang baik.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Laktasi
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI.
2.2. Fisiologi Laktasi
Pada masa hamil, terjadi perubahan pada payudara, dimana ukuran payudara bertambah besar. Untuk mempersiapkan payudara agar pada waktunya dapat memberikan ASI, estrogen akan mempersiapkan kelenjar dari saluran ASI dalam bentuk poliferasi, deposit lemak, air dan elektrolit, jaringan ikat semakin banyak dan miopitel di sekitar kelenjar mammae semakin membesar.sedangkan progesterone meningkat kematangan kelenjar mammae dengan hormone lain. Bersamaan dengan membesaranya kehamilan perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI semakin tampak, payudara semakin membesar, puting susu semakin menonjol pembuluh darah semakin tampak, dan areola mammae makin hitam Pada kehamilan lima bulan lebih, kadang-kadang dari ujung putting mulai keluar cairan yang disebut kolostrum. Sekresi cairan tersebut karena pengaruh hormone laktogen dari plasenta dan hormone prolaktin dari kelenjar hipofise. Produksi cairan tidak berlebihan karena meski selama hamil kadar prolaktin cukup tinggi pengaruhnya di hambat oleh estrogen.
Pada seorang wanita menyusui ( laktasi ) kedua dan selanjutnya cenderung lebih baik dari pada yang pertama, menunjukan bahwa seperti halnya pada semua fungsi reproduksi, di perlukan “trial runs” ( latihan) sebelum mencapai kemampuan yang optimal. Pada umumnya wanita yang lebih muda kemampuanya lebih baik dari pada yang tua.




2.3. Produksi Asi

Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika
 mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.
Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI.Hari pertama setelah persalinan seringkali payudara ibu terasa kosong.air susu yang pertama kali dikeluarkan terasa sedikit disebut susu jolong/ kolostrum berwarna kekuningan.kolostrum mengandung sel darah putih dan protein imunoglobulin pembunuh kuman.kolostrum dianggap sebagai imunisasi pertama yang diterima bayi baru lahir.


Hormon dan Refleks yang berperan menghasilkan ASI

ASI dihasilkan oleh kerja gabungan hormon dan refleks.Pada kehamilan terjadi perubahan hormon untuk mempersiapkan produksi ASI.setelah persalinan perubahan hormon membuat payudara menghasilkan ASI.
Hormon-hormon yang terlibat dalam pembentukan ASI  adalah sebagai berikut.
  • Hormon prolaktin: hormon produksi ASI dihasilkan oleh kelenjar hipofise didasar otak yang membuat sel kelenjar payudara menghasilkan ASI.Hormon ini mempunyai efek penting dalam menekan fungsi indung telur sehingga memperlambat kesuburan atau haid.
  • Hormon oksitosin: hormon pengeluaran ASI dihasilkan dari bagian belakang hipofise hormon ini membuat otot – otot mengkerut dan memeras ASI keluar.
  • Hormon progesteron: mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli.Kadar progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan.hal ini menstimulasi produksi ASI secara besar-besaran.
  • Hormon estrogen: Menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar.Kadar estrogen  dalam tubuh menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui.
Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan plasenta mengeluarkan banyak HPL yang berperan dalam pertumbuhan payudara,puting,dan areola sebelum melahirkn.Pada bulan kelima dan keenam kehamilan,payudara siap memproduksi ASI.
Proses pembentukan  Laktogen
Proses pembentukan laktogen melalui tahapan-tahapan berikut ini.


1.                  Laktogenesis I
       Pada fase terakhir kehamilan,payudara wanita memasuki fase laktogenesis 1.saat itu payudara memproduksi kolostrum,yaitu berupa cairan kental yang kekuningan.
2.                  Laktogenesis II
             Saat melahirkan,keluarnya plasenta menyebabkan turunnya hormon progesteron,dan HPL secara tiba-tiba,namun hormo prolaktin tetap tinggi.hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran  yang di kenal dengan fase laktogenesis II.Apabila  payudara di rangsang, jumlah prolaktin dalam darah akan meningkan dan mencapai puncaknya dalam periode 45 menit, kemudian kembali ke level sebelum rangsangan  tiga jam kemudian.
3.                  Laktogenesis III
Sistem  control hormone endokrin mengatur produksi ASI  selama kehamilan  dan beberapa hari pertama setelah melahirkan.Ketika produksi ASI mulai stabil,sistem kontrol otokrin dimulai.Pada tahap ini apabila ASI banyak dikeluarkan  maka payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Dengan demikian ASI sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan seberapa banyak bayi menghisap serta seberapa sering payudara di kosongkan.


2.4  Proses Produksi Air Susu
1.  Saat bayi menghisap, sejumlah sel saraf di payudara ibu mengirim pesan ke     hipotalamus
2.  ketika menerima pesan itu, hipotalasmus melepas “rem” proklaktin
3.  Untuk memulai menghasilkan ASI, prolaktin yang dihasilkan kelenjar pituitari merangsang kelenjar-kelenjar susu di payudara

Reflek-reflek Menyusui pada Ibu dan Bayi

Pada saat menyusui akan terjadi beberapa refleks pada ibu an bayi yang penting pengaruhnya terhadap kelancaran menyusui.
Refelks yang terjadi pada ibu yaitu rangsangan yang terjadi sewaktu bayi menghisap putting susu diantaranya:
  1. Refleks Prolaktin (rangsangan ke otak untuk mengeluarkan hormon prolaktin), hormon ini akan merangsang sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI. makin sering bayi menghisap, makinbanyak prolaktin yang lepas makin banyak pula ASI yang diproduksi. maka cara yang terbaik mendapatkan ASI dalam jumlah banyak adalh menyusui bayi sesering mungkin atau setidaknya menempelkan putting susu ibu pada mulut bayi untuk bisa dihisap bayinya.

  1. Refleks Oksitosin (rangsangan ke otak untuk mengeluarkan hormon oksitosin), hormon ini akan memacu sel-sel otot yang mengelilingi jaringan kelenjar susu dan saluranya unutk berkontraksi, sehingga memeras air susu keluar menuju putting susu. ibu perlu mewaspadai bahwa tekanan karena kontraksi otot ini kadang-kadang begitu kuat sehingga air susu keluar dari putting menyembur, ini bisa membuat bayi tersedak.


Refleks oksitosin dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan sensasi ibu. biasanya perasaan ibu bisa merangsang pengeluaran ASI secara refleks, tetapi kadang-kadang juga menghambatnya. perasaan yang bisa menghentikan refleks oksitosin misalnya, khawatir, sedih, atau takut akan sesuatu. ibu kesakitan pada saat menyusui atau merasa malu. refleks ini bisa muncul pada saat sang ibu mendengar bayinya menangis, melihat foto bayinya atau sedang teringat pada bayinya berada jauh. manfaaat refleks oksitosin lainya adalah membantu lepasnya plasenta dari rahim ibu dan menghentikan perdarahan persalinan.
Refleks yang terjadi pada bayi diantaranya:
  • Rooting Refleks, bila bayi baru lahir disentuh pipinya, dia akan menoleh kearah sentuhan. bila bibirnya dirangsang atau disentuh dia akan membuka mulut dan berusaha mencari putting untuk menyusu.
  • Sucking Refleks, atau refleks menghisap. refleks ini terjadi bila ada sesuatu yang merangsang langit-langit dalam mulut bayi. jika putting susu menyentuh langit-langit belakang mulut bayi terjadi refleks menghisap dan terjadi tekanan terhadap daerah aerola oleh gusi, lidah, serta langit-langit, sehingga isi sinus laktiferus (tempat penampungan ASI pada payudara) diperas keluar kedalam rongga mulut bayi.
  •  Swallowing Refleks,bila mulut bayiterisi ASI ,maka ia akan menelannya.

Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung pada  stimulasi pada kelenjar payudara terutama pada minggu pertama laktasi.  Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain :

1. Frekuensi Penyusuan 
Pada studi 32 ibu dengan bayi prematur disimpulkan bahwa produksi
ASI akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama  bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi  prematur belum dapat menyusu (Hopkinson et al, 1988 dalam ACC/SCN,  1991). Studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi cukup bulan
menunjukkan bahwa frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali perhari selama 2  minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang  cukup (de Carvalho, et al, 1982 dalam ACC/SCN, 1991). Berdasarkan hal ini  direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal  setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan  stimulasi hormon dalam kelenjar payudara.
2. Berat Lahir
Prentice (1984) mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI.  Hal ini berkaitan dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama penyusuan  dibanding bayi yang lebih besar. Berat bayi pada hari kedua dan usia 1 bulan sangat  erat berhubungan dengan kekuatan mengisap yang mengakibatkan perbedaan intik  yang besar dibanding bayi yang mendapat formula. De Carvalho (1982) menemukan  hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan lama menyusui selama 14
hari pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan  mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr).  Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama  penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan  mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.

3. Umur Kehamilan saat Melahirkan
Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intik ASI. Hal ini disebabkan  bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan  tidak mampu mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada  bayi yang lahir tidak prematur.
Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur  dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ.
4. Stres dan Penyakit Akut
Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi  produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan  berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman.. Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu proses laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI.
5.. Konsumsi Rokok
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon  prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan  adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin. Studi  Lyon,(1983); Matheson, (1989) menunjukkan adanya hubungan antara merokok dan  penyapihan dini meskipun volume ASI tidak diukur secara langsung. Meskipun  demikian pada studi ini dilaporkan bahwa prevalensi ibu perokok yang masih
menyusui 6 – 12 minggu setelah melahirkan lebih sedikit daripada ibu yang tidak  perokok dari kelompok sosial ekonomi sama, dan bayi dari ibu perokok mempunyai  insiden sakit perut yang lebih tinggi. Anderson et al (1982) mengemukakan bahwa  ibu yang merokok lebih dari 15 batang   rokok/hari mempunyai prolaktin 30-50%  lebih rendah pada hari pertama dan hari ke 21 setelah melahirkan dibanding dengan  yang tidak merokok.
7. Konsumsi Alkohol
Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu  merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun disisi lain  etanol dapat menghambat produksi oksitosin. Kontraksi rahim saat penyusuan  merupakan indikator produksi oksitosin. Pada dosis etanol 0,5-0,8 gr/kg berat badan  ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62% dari normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg  mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal (Matheson, 1989).
8. Pil Kontrasepsi
Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan  dengan penurunan volume dan durasi ASI (Koetsawang, 1987 dan Lonerdal, 1986  dalam ACC/SCN, 1991), sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka  tidak ada dampak terhadap volume ASI (WHO Task Force on Oral Contraceptives,  1988 dalam ACC/SCN, 1991). Berdasarkan hal ini WHO merekomendasikan pil  progestin untuk ibu menyusui yang menggunakan pil kontrasepsi.
Ada dua cara untuk mengukur produksi ASI yaitu penimbangan berat badan  bayi sebelum dan setelah menyusui; dan pengosongan payudara. Kurva berat badan  bayi merupakan cara termudah untuk menentukan cukup tidaknya produksi ASI  (Packard, 1982). Dilihat dari sumber zat gizi dalam ASI maka ada 3 sumber zat gizi  dalam ASI yaitu : 1) disintesis dalam sel secretory payudara dari precursor yang ada  di plasma; 2) disintesis oleh sel-sel lainnya dalam payudara; 3) ditransfer secara
langsung dari plasma ke ASI (Butte, 1988). Protein, karbohidrat, dan lemak berasal  dari sintesis dalam kelenjar payudara dan transfer dari plasma ke ASI, sedangkan  vitamin dan mineral berasal dari transfer plasma ke ASI. Semua fenomena fisiologi  dan biokimia yang mempengaruhi komposisi plasma dapat juga mempengaruhi  komposisi ASI. Komposisi ASI dapat dimodifikasi oleh hormon yang  mempengaruhi sintesis dalam kelenjar payudara (Vaughan, 1999).
Aspek gizi ibu yang dapat berdampak terhadap komposisi ASI adalah intik  pangan aktual, cadangan gizi, dan gangguan dalam penggunaan zat gizi. Perubahan  status gizi ibu yang mengubah komposisi ASI dapat berdampak positif, netral, atau  negatif terhadap bayi yang disusui. Bila asupan gizi ibu berkurang tetapi kadar zat  gizi dalam ASI dan volume ASI tidak berubah maka zat gizi untuk sintesis ASI  diambil dari cadangan ibu atau jaringan ibu. Komposisi ASI tidak konstan dan  beberapa faktor fisiologi dan faktor non fisiologi berperan secara langsung dan tidak  langsung. Faktor fisiologi meliputi umur penyusuan, waktu penyusuan, status gizi  ibu, penyakit akut, dan pil kontrasepsi. Faktor non fisiologi meliputi aspek  lingkungan, konsumsi rokok dan alkohol (Matheson, 1989).

2.5. Persiapan Laktasi Sejak Dini
Persiapan menyusui perlu dilakukan seawal mungkin pada setiap wanita hamil dan para ibu hendaknya mengetahui upaya-upaya yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI/ menyusui.
Klinik Antenatal
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam klinik Antenatal bagi ibu hamil adalah :
1. Gizi ibu hamil, dari konsumsi zat gizi yang masuk  kedalam tubuh serta cadangan yang ada pada wanita hamil dan menyusui akan digunakan untuk aktivitas dan metabolisme tubuh ibu, dan proses pembentukan ASI, nilai kalori serta zat gizi dari ASI itu sendiri.
2. Perilaku ibu hamil
a. Kecukupan istirahat
Wanita hamil sebaiknya tidur minimal 8 jam sehari, kegiatan dan gerakannya sehari hari harus memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi pada dirinya. Diantara waktu tersebut harus adawaktu untuk istirahat (santai) guna melemaskan otot-otot.
b. Tidak merokok, minum alkohol, kopi, soda.
Termasuk menjauhi asap rokok dari orang lain.minuman kopi dan minuman soda dapat mengurangi kemampuan usus untuk menyerap kalsium dan zat besi.
3. Obat-obatan
Pemakaian obat-obatan selama hamil hanya atas petunjuk bidan atau dokter, terutama menjelang persalinan perlu diperhatikan, agar tidak berpengaruh terhadap laktasi.
4. keluhan lain
Adanya keluhan lain, misalnya sakit gigi /mulut, infeksi lainya.


5. Hygiene personal dan lingkungan.
Kebersihan diri dan pakaian yang nyaman perlu mendapat perhatian untuk menjaga kesehatan .pilihlah pakaian yang longgar ,ringan dan mudah menyerap keringat.
6. Pendukung
Sebaiknya selama 3 bulan terakhir kehamilan, seorang ibu telah menentukan dokter yang akan mengawasinya persalinan anaknya. Kerjasama antara tenaga penolong persalinan dan dokter anak juga harus di bina.
Perawatan Payudara
Demi keberhasilan menyusui, payudara memerlukan perawatan sejak dini secara teratur .Perwatan selama kehamilan bertujuan agar selama menyusui kelak produksi asi cukup.tidak terjadi kelainan pada payudara dan payudara tetap baik setelah menyusui.
Pada umumnya wanita dalam kehamilan 6-8 minggu akan mengalami pembesaran payudara,akan lebih padat,kenyal,kencang,sakit dan tampak jelas di permukaan kulit adanya gambaran pembuluh darah yang bertambah serta melebar. kelenjar Montgomery pada daerah areola tampak lebih nyata dan menonjol.
Perawatan Payudara antara lain :
1. Pemakaian BH yang tepat,sebaiknya ibu hamil harus memakai bra yang tepat dan ukuran
   yang sesuai dapat menopang perkembangan payudara.
2. Latihan otot-otot yang menopang payudara.
3. Hygiene payudara
         Kebersihan/hygiene payudara juga harus di perhatikan ,khususnya daerah papila dan aerola
pada saat mandi sebaiknya papila dan areola tidak di sabuni.untuk menghindari keadan kering dan kaku akibat hilangnya lendir pelumas yang dihasilkan kelenjar Montgomery.Areola dan papila yang kering akan memudahkan terjadinya lecet dan infeksi.

2.6. Keunggulan dan Manfaat Asi
ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi dalam 4 – 6 bulan pertama kehidupan.
Keunggulan ASI dibanding susu formula adalah :

1. ASI praktis, ekonomis,dan hygienis.
2. Mengandung semua bahan / zat gizi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan
    bayi.
3. Dapat diberikan dimana aja dan kapan saja dalam keadaan segar, bebas bakteri dan suhu
    yang sesuai,tanpa penggunaan alat bantu.
4. Bebas dari kesalahan dalam penyediaan / takaran.
5. Problem kesulitan pemberian makanan pada bayi jauh lebih sedikit daripadea bayi yang
    mendapat susu formula buatan.
6. Mengandung imunoglobulin
7. Mencegah terjadinya keadaan gizi salah.

Manfaat Asi Untuk Bayi
1.    Nutrisi yang sesuai untuk bayi
2.    Mengandung zat protektif
3.    Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan
4.    Menyebabkan pertumbuhan yang baik
5.    Mengurangi kejadian karies dentis
6.    Mengurangi kejadian maloklusi

Manfaat Asi Untuk Ibu

1.    Aspek kesehatan ibu

Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis.Oksitosin membantu involusi dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan

2.    Aspek keluarga berencana

Menyusui secara murni(eksklusif) dapat menjarangkan kehamilan.Ditemukan rerata jarak kelahiran ibu yang menyusui adalah 24 bulan,sedangkan yang tidak menyusui 11 bulan

3.    Aspek psikologi

Keuntungan menyusui bukan hanya bermanfaat untuk bayi,tetapi juga untuk ibu. Ibu akan merasa bangga dan diperlukan,rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia

            Manfaat Asi Untuk Keluarga

1.      Aspek ekonomi

ASI tidak perlu beli,sehingga dana yang seharusnya digunakanunuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain

2.      Aspek psikologi
Kebahagiaan keluarga bertambah,karena kelahiran lebih jarang,sehingga suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga
3.      Aspek kemudahan

Menyusui sangat praktis,karena dapat diberikan dimana saja.keluarga tidak erlu repo menyiapkan air masak,botol dan dot yang harus selalu di bersihkan

     
     Manfaat Asi Untuk Negara
1.    Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak

 Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI mnjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian menurun.

2.    Mengurangi  subsidi untuk rumah sakit

Subsidi untuk rumah sakit berkurang,karena rawat gabung akan meperpendek lama rawat inap ibu dan bayi,serta mengurangi biaya yang di perlukan untuk perawatan anak sakit

3.    Mengurangi devisa untuk membeli susu formula

Jika semua ibu menyusui,maka  pengeluaran devisa yang seharusnya di pergunakan untuk membeli susu formula dapat di tabung sebagai kekayaan nasional.

4.    Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa

Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kulitas generasi penerus bangsa akan  terjamin.


Kerugian Air Susu Buatan/Formula
Air susu buatan/formula mempunyai beberapa kerugian yaitu:
1.pengenceran yang salah
      Pengenceran yang salah dapat diartikan 2 hal yaitu melarutkan susu formula lebih encer dari seharus nya atau lebih pekat dari seharus nya.keduanya akan menimbulkan masalah pada bayi dan anak.penyebabnya adalah anturan yang tertera pada label kaleng susu formula tidak dapat di mengerti oleh ibu-ibu.
2.kontaminasi mikroorganisme
     Pembuatan susu formula di rumah tidak menjamin bebas dari kontaminasi mikroorganisme patogen.
3.Menyebabkan alergi
    Kejadian alergi susu sapi bukannya tidak jarang, prevalensinya dilaporkan antara 0,5 -1 %. Tetapi tidak banyak petugas kesehatan yang menyadari.
4.Susu sapi dapat menyebabkan diare kronis
    Ada dugaan bahwa diare akut dapat berlanjut menjadi kronis pada anak yang minum susu sapi.Diduga kerusakan mukosa usus yang terjadi pada diare akut menyebabkan terjadinya akut menyebabkan terjadinya diare kronis melalui mekanisme peningkatan absorsi antigen melalui mukosa yang rusak yang selanjutnya terjadi sensitisasi terhadap protein susu sapi dan dan terjadi enteropati yang akhirnya akan memperberat kerusakan mukosa.
5.Penggunaan susu formula dengan indikasi yang salah
   Saat ini banyak susu formula yang beredar dipasaran.Ada diantaranya yang digunakan untuk penyakit tertentu atau keadaan tertentu.
6.Tidak Mempunyai manfaat ASI
     Dari uraian manfaat ASI di atas dapatlah dikatakan bahwa kekurangan lain dari susu formula adalah, bahwa susu formula tidak mempunyai manfaat seperti halnya ASI. Jadi air susu buatan/formula:
§  Nutriennya tidak sesempurna ASI
§  Tidak mengandungzat protektif
§  Mudah menimbulkan alergi
§  Lebih mudah menimbulkan karies dentis
§  Lebih mudah menimbulkan maloklusi
§  Kurang menimbulkan efek psikologis yang menguntungkan
§  Tidak merangsang involusi rahim
§  Tidak berefek menjarangkan kehamilan
§  Tidak mengurangi insiden karsinoma mammae
§  Tidak praktis
§  Tidak ekonomis
§  Bagi negara menambahkan beban anggaran yang harus dikeluarkan untuk membeli susu formula, biaya perawatan ibu dan anak.


2.7  Langkah-langkah Menyusui yang Baik dan Benar

Langkah-langkah menyusui yang baik dan benar meliputi hal-hal berikut :
1. Persiapan mental dan fisik ibu menyusui
Ibu yang akan menyusui harus dalam keadaan tenang. Bila perlu minum segelas air sebelum menyusui. Hindari menyusui dalam keadaan lapar dan haus. Sediakan tempat dengan peralatan yang diperlukan, seperti kursi dengan sandaran punggung dan sandaran tangan, bantal untuk menopang tangan yang menggendong bayi.

2. Hygiene personal ibu menyusui
Sebelum menggendong bayi untuk menyusui, tangan harus dicuci bersih. Sebelum menyusui, tekan daerah areola di antara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2-3 tetes ASI, kemudian dioleskan ke seluruh puting dan areola. Cara menyusui yang terbaikadalah bila ibu melepaskan BH dari kedua payudara.

3. Menyusui bayi sesuai dengan permintaan bayi
Susukan bayi sesuai dengan kebutuhannya (”on demand“), jangan dijadwalkan. Biasanya kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2-3 jam sekali. Setiap kali menyusui, lakukanlah pada kedua payudara kiri dan kanan secara bergantian, masing-masing sekitar 10 menit. Mulailah dengan payudara sisi terakhir yang disusui sebelumnya. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong.

4. Setelah selesai menyusui, oleskan ASI lagi seperti awal menyusui tadi. Biarkan kering oleh udara sebelum kembali memakai BH. Langkah ini berguna untuk mencegah lecet.

5. Membuat bayi bersendawa setelah menyusui harus selalu dilakukan, untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak kembung dan muntah.
Bila terjadi keadaad lecet pada puting dan atau sekitarnya, sebaiknya ibu tetep menyusui dengan mendahului pada puting yang tidak lecet. Sebelum diisap, puting yang lecet dapat diolesi es untuk mengurangi rasa sakit. Yang lebih penting dari kejadian ini adalah mencari penyebab lecet tersebut yang tentunya harus dihindari.
Keadaan engorgement (payudara bengkak) yang sering terjadi pada payudara yang elastisitasnya kurang. Untuk mengatasinya, kompres payudara dengan handuk hangat kira-kira 4-5 menit, kemudian dilakukan masase dari tepi ke arah puting hingga ASI keluar. Setelah itu baru bayi disusukan. Jangan berhenti menyusui dalam keadaan ini.


Apabila bayi telah menyusu dengan benar ,maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut.
Ø  Bayi  tampak tenang
Ø  Badan  bayi menempel pada perut ibu.
Ø  Mulut bayi terbuka lebar.
Ø  Dagu bayi menempel pada payudara ibu.
Ø  Sebagian areaola masuk kedalam mulut bayi,areola bawah lebih banyak masuk.
Ø  Bayi nampak menghisap dengan ritmen perlahan-lahan.
Ø  Puting susu tidak terasa nyeri.
Ø  Telinga dan lengan bayi terletak pada stu garis lurus.
Ø  Kepala bayi agak menengandah.








BAB III
PENUTUP



3.1 Kesimpulan
Menyusui adalah proses alami manusia tetapi tidak sederhana seperti yang di bayangkan khalayak umum.Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan ini. Agar menyusui berhasil, setiap ibu harus percaya dapat melakukannya dengan didukung petunjuk pengetahuan dan manajemen praktek menyusui yang benar dan tepat. Persiapan dini sejak masa kehamilan hingga menyusui sangat membantu kelancaran proses menyusui secara keseluruhan.
Penggunaan ASI telah dideklarasikan sebagai gerakan nasional yang merupakan upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak.Untuk mencapai keberhasilan gerakan nasional perlu didukung oleh peran serta seluruh anggota masyarakat para ibu sebagai pelopor peningkatan kualitas sumberdaya indonesia.praktek menyusui yg baik dan benar setiap ibu perlu mempelajarinya.bukan pada ibu yang pertama kali hamil dan melahirkan tetapi juga ibu – ibu yang melahirkan anak yang ke 2 dan seterusnya.
Peranan petugas kesehatan sangat penting dalam melindungi,meningkatkan, dan mendukung usaha menyusui baik sebelum, selama maupun setelah kehamilan dan persalinan.Petugas kesehatan harus mampu memotivasi , memberikan bimbingan dan penyuluhan manajemen menyusui dikalangan ibu.Dukungan tenaga kesehatan ini akan sangat menentukan suksesnya kampaye ASI disamping dukungan keluarga dan lingkungan.
3.2 Saran
Dengan mengikuti dan mempelajari pengetahuan mengenai menyusui atau laktasi diharapkan setiap ibu hamil,bersalin dan menyusui dapat memberikan ASI secara optimal sehingga bayi dapat tumbuh kembang normal sebagai calon sumber daya manusia yang berkualitas.